Sabtu, 20 Oktober 2012

Persahabatan dan Kematian (Part. 3)


Persahabatan dan Kematian (Part. 3)

Rio yang merasa bahunya dipegang oleh seseorang pun terkejut.
“Kok lo duduk disini, Yo?” tanya Deva. Ternyata Deva yang memegang bahunya.
“Eh, lo Dev. Gue kira siapa” jawab Rio.
“Kita semua nyariin lo tau” kata Deva. Rio segera berdiri.
“Kan udah ketemu. Balik, yuk” kata Rio. Deva dan Rio kembali ke penginapan. Ternyata kelompok pecinta alam sudah bersiap-siap untuk berangkat.
“Rio!! Lo kemana aja? Gue khawatir tau” kata Keke.
“Cuma nyari udara seger, kok. Eh, udah mau berangkat, ya?” tanya Rio.
“Iya” jawab Keke.
“Bentar dulu, gue mau ngambil tas” kata Rio. Ia masuk ke penginapan dan tak lama kemudian kembali dengan membawa tasnya. Setelah itu, rombongan pecinta alam SMA Harapan meninggalkan penginapan dan berjalan bersama menuju sebuah hutan di dekat bukit. Mereka akan mengadakan survey dari sore hingga besok pagi.
“Oke, silahkan dirikan tenda untuk istirahat. Malam ini, kita menginap disini. Dirikan saja 4 tenda. 2 untuk laki-laki dan 2 untuk perempuan” jelas kak Winda. Semua murid mendirikan tenda. Setelah itu, dimulailah acara survey para pecinta alam.
“Silahkan melihat-lihat isi hutan ini. Ambil fotonya dan kembali kesini. Batas waktu hingga jam 7 malam” kata kak Winda. semua kelompok segera berjalan menuju hutan.
“Yo, ni pohon gede amat ya?” komentar Deva.
“Iya. Foto yuk” jawab Rio.
“Siapa? Gue?” tanya Deva.
“Kagak. GR amat sih, lo. Yang mau gue foto pohon itu” jawab Rio. Lalu, Rio mengambil kamera dan memotret pohon yang sangat besar itu. Rio mengamati pohon itu. Muncul sedikit kengerian pada diri Rio.
“Udah, Yo? Cari objek lain, yuk” ajak Keke. Rio mengangguk. Mereka bertiga berjalan mencari objek lain. Setelah beberapa jam mencari objek untuk survey, Rio cs kembali ke perkemahan.
“Hah! Capek gue” ujar Deva.
“Gue juga” tambah Keke.
“Oh ya, gue kesana dulu, ya?” Rio menunjuk ke tempat pohon besar yang pertama dilewatinya tadi.
“Ngapain? Gue ikut, ya Yo” kata Keke.
“Nggak usah. Lo kan capek. Gue cuma sebentar, kok” kata Rio. Ia pergi menuju pohon besar itu. Diperhatikannya pohon itu.
“Ni pohon pasti udah tua banget, ya” pikir Rio. Tiba-tiba Rio dikejutkan dengan bayangan hitam yang lewat di belakang pohon besar itu.
“Ya Tuhan. Sudah tiga kali aku melihat bayangan itu. Pertanda apa ini?” batin Rio. Tanpa ba-bi-bu, Rio segera berlari meninggalkan pohon besar itu. Sesampainya di perkemahan, Deva dan Keke bingung melihat Rio kembali dengan napas yang ngos-ngosan.
“Habis jogging lo, Yo?” tanya Deva.
“Kagak. Ah, gue capek. Pengin tidur” jawab Rio sambil masuk ke dalam tendanya. 5 menit kemudian, Rio sudah tertidur. Mimpi aneh itu kembali mendatangi Rio. Tapi, di dalam mimpi itu, ia melihat seorang cewek yang berada di rumah sakit jiwa. Rio terbangun.
“Ada apa ini? Lama-lama gue bisa gila dengan mimpi dan bayangan itu. Siapa cewek penghuni rumah sakit jiwa itu?” Rio bertanya-tanya dalam hati.
Akhirnya malam pun tiba. Malam ini, kegiatan mereka adalah berkumpul di dekat api unggun. Rio keluar dari tendanya. Ia bermaksud untuk mencari Keke. Tapi, ia tidak menemukannya.
“Dev, Keke mana?” tanya Rio.
“Belum balik” jawab Deva.
“Emang dia kemana?” tanya Rio lagi.
“Nggak tau” jawab Deva. Rio bertanya pada teman satu tenda Keke.
“Liv, Keke kemana?” tanya Rio pada Olivia.
” Tadi pas lo tidur, Keke pergi ke hutan. Katanya mau motret apa gitu” jawab Olivia.
“Sampai malam gini masih belum balik?” Rio mulai khawatir.
“Iya. Tapi ada yang aneh dari Keke tadi. Ia seperti orang bingung. Dan matanya…” kata Olivia.
“Matanya?” tanya Rio.
“Matanya merah. Gue ampe ngeri liat dia” jawab Olivia. Kali ini Rio benar-benar cemas. Ia segera berlari ke dalam hutan yang gelap untuk mencari Keke.
“Untung gue bawa senter” batin Rio. Ia segera mencari Keke. Entah mengapa firasatnya mengatakan kalau Keke pergi ke pohon besar itu. Ternyata firasatnya benar. Ia melihat Keke sedang duduk di bawah pohon itu. Ketika Rio akan memanggil Keke, betapa terkejutnya Rio. Gadis yang dicintainya itu sudah tak bernyawa lagi. Keke sudah bersimbah darah di bawah pohon itu. Sebuah tali terikat erat dileher Keke. Rio merasa tak berdaya lagi. Ia jatuh terduduk melihat mayat Keke.
“Keke!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!” teriak Rio.


NEXT PART >>>

Tidak ada komentar:

Posting Komentar