Sabtu, 20 Oktober 2012

Persahabatan dan Kematian (Part 7)

Persahabatan dan Kematian (Part 7)


Rio yg terkejut langsung lari ke arah Ify..
“Kenapa, Fy?” tanya Rio cemas.
“Itu kak…” Ify menunjuk ke sebuah sisi pemakaman. Rio melihat ke arah yang ditunjuk Ify. Ia melihat bayangan hitam itu lagi.
“Bayangan itu lagi, Fy?” tanya Rio. Kini, Rio berusaha untuk tidak takut. Ify
mengangguk takut. Rio merangkul Ify. Ia merasakan Ify gemetaran.
“Udah, Fy. Mending kita pergi aja dari sini” kata Rio, lalu membawa Ify kembali ke motor Rio. Ify menurut.
Tapi, pandangan Ify tetap tertuju ke tempat bayangan itu berdiri. Ify terus
memandangi bayangan hitam yang wujud aslinya bisa dilihat Ify.
Perlahan, rasa takut itu menghilang menjadi rasa iba. Ify melihat sosok asli bayangan itu
menangis. Selang beberapa menit kemudian, sosok lain datang menghampiri sosok
yang menangis itu. Sontak Ify terkejut. Bayangan hitam itu tidak hanya ada
satu. Kini rasa itu bercampur aduk, rasa iba dan rasa takut. Seiring dengan
kepergian Ify dan Rio, kedua bayangan itu menghilang.
“Makasih, kak” ucap Ify di depan rumahnya.
“Sama-sama. Oh ya, kalo ada apa-apa lo hubungin gue” kata Rio.
“Gue nggak punya nomer lo, kak” kata Ify. Rio memberikan nomor hpnya pada Ify.
“Inget, kalo ada apa-apa lo hubungin gue” kata Rio.
“Iya, kak. Oh ya, gue mau bilang sesuatu sama kakak, tapi jangan kasih tau kak Alvin
dulu. Gue belum tau pasti soalnya” kata Ify.
“Oke, oke” jawab Rio. Ify membisikkan sesuatu di telinga Rio. Setelah mendengar perkataan Ify, mata Rio terbelalak. Rasa takut itu kembali datang.
“Lo yakin, Fy?” tanya Rio.
“Belum terlalu yakin, kak” jawab Ify.
“Yang penting kita harus hati-hati” kata Rio.
“Iya, kak. Ya udah, gue masuk ya” kata Ify. Rio pun pulang ke rumahnya. Sesampainya di rumah, ia segera masuk ke kamar. Ia melihat bayangan itu lagi. Ia berusaha unutk tidak takut.
“Pergi lo!!” kata Rio. Tak lama kemudian, bayangan itu menghilang. Malam itu, Rio
benar-benar tidak bisa tidur karena memikirkan apa yang dikatakan Ify tadi.
2 minggu kemudian…
Hari-hari dilewati Rio dengan rasa penasaran yang besar. Ia mencemaskan semua orang yang ada
disekitarnya. Kini, Rio sudah kembali ke sekolah. Hampa rasanya hari-hari Rio tanpa kehadiran Keke yang selalu menanyakan apakah Rio ada membuat PR atau tidak. Sepi rasanya hidup Rio tanpa kehadiran Deva yang selalu terlambat masuk kelas hanya gara-gara terlalu lama berkunjung ke kelas Rio.
Sepulang sekolah biasanya Rio pergi ke tempat Ify dan mengunjungi Alvin di taman. Dengan
begitu sedikit bebannya bisa berkurang. Tapi, gadis yang ada dalam mimpi Rio sampai detik ini belum bisa ia temukan.
“Rio” panggil papanya.
“Iya, pa” jawab Rio.
“Papa mau bicara sama kamu” kata papanya.
“Ada apa, pa?” tanya Rio.
“Papa dan mama senang karena akhirnya kamu mau masuk sekolah kembali. Dan kamu sudah mulai tersenyum walaupun sedikit” jawab papa Rio. Rio tersenyum mendengar perkataan papanya.
“Rio, kamu jaga mama, ya. Besok papa harus berangkat ke Malaysia” kata papa Rio.
“Berapa hari, pa?” tanya Rio.
“Belum pasti. Papa harus selesaikan masalah yang ada disana” jawab papa Rio. Rio
menunduk menahan kesedihannya. Papa Rio yang melihat putra semata wayangnya itu
tersenyum dan memeluk Rio.
“Kamu kan bisa menelfon papa, nak” kata papa Rio. Lalu, mama Rio datang menghampiri Rio dan papanya.
“Ayo, makan malam dulu. Pa, barang-barang papa udah mama masukin ke koper” kata mama Rio.
“Makasih, ma. Nah Rio, ayo kita makan malam” ajak papa Rio. Mereka bertiga makan malam dalam suasana yang khidmat dan diselimuti kebahagiaan. Sayangnya, tak ada yang abadi di dunia ini.
Kebahagiaan itu tak akan bertahan lama.
Esoknya…
“Rio, inget apa kata papa semalam” pesan papa Rio. Rio mengacungkan jempolnya.
“Ma, papa pergi dulu ya” kata papa Rio sambil mencium kening mama Rio. Lalu, papa Rio
masuk kedalam taksi. Saat papanya masuk ke dalam taksi, sekilas Rio melihat bercak darah di baju papanya.
“Nggak!!” batin Rio. Setelah itu, taksi yang membawa papa Rio meninggalkan kompleks perumahan Rio. Rio masih sempat melihat taksi itu berbelok di perempatan jalan di depan kompleks perumahan itu.
Saat itu juga, Rio melihat taksi yang ditumpangi papanya ditabrak oleh sebuah truk hingga taksi itu terlempar. Rio dan mamanya yang melihat kejadian itu, segera berlari menuju tempat kejadian. Saat mereka sampai disana, orang-orang sudah mengerubungi taksi naas itu. Rio melihat sesosok bayangan hitam keluar dari truk yang menabrak papa Rio. Ia segera melihat ke dalam truk itu. Kosong. Tidak ada sopir pada truk itu.
“Rio!!” panggil mamanya. Rio melihat mamanya menangis. Dipeluknya mama yang sangat dicintainya itu.
“Papa kamu..” kata mama Rio. Rio segera melepaskan pelukan mamanya dan
berlari menuju taksi yang sudah hancur itu. Ia tak kuasa melihat pemandangan di dalam taksi itu. Seorang papa yang sangat disayanginya kini sudah tiada. Di dalam taksi, hanya ada jenazah
papa Rio. Tidak ada jenazah sopir yang membawa papa Rio. Taksi itu tidak bersopir. Hari itu
juga, jenazah papa Rio dimakamkan. Alvin dan Ify juga menghadiri pemakaman papa Rio. Rio masih belum percaya kemarin malam merupakan malam terakhir ia makan malam bersama dengan
papanya.
“Yo, gue turut berduka” kata Alvin. Rio hanya bisa terdiam. Pandangan matanya kosong.
“Kak Rio, yang tabah ya” kata Ify. Rio masih diam.
2 hari kemudian…
Semenjak kematian papanya, Rio tidak pergi ke sekolah lagi. Ia harus merawat mamanya yang depresi atas kepergian papa Rio. Rio tidak tahan melihat keadaan mamanya. Ia memutuskan untuk membawa mamanya ke psikiater. Walau berat, tapi keadaan yang menyuruh.
Rumah sakit..
“Rio, ibu anda mengalami depresi berat atas kematian ayah anda. Saya sarankan, ibu anda di rawat di
rumah sakit” kata dokter.
“Nggak, dok. Mama saya nggak gila” kata Rio.
“Dirawat di rumah sakit jiwa bukan berarti mama anda gila. Disana, kami akan lebih bisa memperhatikan keadaan ibu anda. Ibu anda harus mendapatkan terapi” kata dokter. Rio menginginkan kesembuhan mamanya. Dengan berat hati, ia mengikuti saran dokter. Mulai hari itu, mama Rio akan ditangani oleh
dokter. Dalam perjalanan pulang, Rio hanya bisa termenung dan memendam beban serta emosinya. Terlalu banyak beban yang kini bersarang di benak Rio. Tiba-tiba Rio merasa kepalanya pusing dan ia pingsan di pinggir jalan. Seseorang yang melihat Rio pingsan membawa Rio ke dalam mobilnya.



NEXT PART >>>

Tidak ada komentar:

Posting Komentar